Senin, 07 Januari 2013

Makalah Pancasila "PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT"

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
  Pancasila merupakan maha karya bangsa indonesia yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara. Melalui proses yang sangat panjang pancasila disahkan oleh “the founding father “   NKRI.
              Dewasa ini, terutama di era reformasi, membicarkan Pancasila dianggap sebagai keinginan untuk kembali ke kejayaan Orde Baru. Bahkan, sebagian orang memandang sinis terhadap Pancasila sebagai sesuatu yang salah. Kecenderungan demikian wajar saja, karena Orde Baru menjadikan Pancasila sebagai Legitimasi ideologis dalam rangka mempertahankan dan memperluas kekuasaannya secara masif. Akibatnya Pancasila ikut terdeskreditkan bersamaan dengan tumbangnya pemerinyahan Orde Baru. Pancasila ikut disalahkan dan pantas menanggung akibat kesalahan sebuah kekuasaan politik. Namun, sebagai sebuah ideologi dan dasar filsafat negara. Pancasila layak untuk dikaji relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
B.       Rumusan Masalah
Ø  Apakah filsafat itu ?
Ø   Pengertian Pancasila Sebagai suatu sistem dan bagiamana unsur-unsur sistem itu ?
Ø  Bagiamana kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu kesatuan yang sistematis, hierarkis, dan logis ?
C.       Tujuan Penulisan
Ø  Agar kita mengetahui pengertian filsafat
Ø  Dapat memahami pancasila sebagai suatu sistem dan unsur-unsurnya.
Ø  Mengerti kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu kesatuan yang sistematis, hierarkis dan logis.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Filsafat
            Secara Etimologis istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philein” yang artinya cinta dan “shopos” yang artinya hikmah atau kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan.
Sedangkan ada yang mengatakan bahwa istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi yakni:
a.    Segi Semantik, perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab “falsafah” yang berasal dari bahasa Yunani, Philo Shopia = pengetahuan hikmah (wisdom). Jadi Philoshopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Mkasudnya semua orang yang berfilsafat nakan menjadi bijaksana.
b.    Segi prkatis, dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir itu berfilsafat. Befilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa : setiap manusia adalah filosuf. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berfikir. Akan tetapi, secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berfikir adalah filosuf.
Filosuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam.
            Jadi, manusia dalam kehidupan pasti memilih apa pandangan dalam hidup yang dianggap paling benar, paling baik, dan membawa kesejahteraan dalam kehidupannya, dan pilihan manusia sebagai suatu pandangan dalam hidupnya itulah yang disebut filsafat. Hal inilah yang juga dilakukan oleh bangsa indonesia dalam menentukan tujuan hidupnya dalam rangka untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam kehidupannya.

B.  Pancasila Sebagai suatu sistem filsafat
                 Menurut Prof.Dr.Winardi ada 3 definisi tentang sistem :
-            Sistem adalah keseluruhan bagian yang saling mempenaruhi satu dengan yang lainnya menurut satu rencana yang ditentukan untuk mencapai tujuan tertentu (H.Thierry)
-            Sistem adalah seperangkat bagian yang saling berhubungan,bekerja bebas, mengejar keseluruhan tujuan dengan kesatuan lingkungan.(William A.Shorde dan Voice Jr)
-            Sistem adalah himpunan unsur (elemen) yang saling mempengaruhiuntuk mana hukum tertentu menjadi berlaku (Ludwig Von Bertalanffy)

            Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sebuah sistem filsafat. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerja sama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sistem lazimnya memiliki ciri sebagai berikut :
-          Suatu kesatuan bagian-bagian.
-          Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
-          Saling berhubungan, saling ketergantungan
-          Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem)
-          Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.

            Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila setipa sila pada hakikatnya merupakan suatu asas tersendiri. Isi sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat berdiri sendiri.  Setiap sila merupakan suatu unsur (bagian yang mutlak) dari kesatuan Pancasila. Maka dasar filsafat negara pancasila adalah merupakan satu kesatuan yang bersifat majemuk tunggal.
            Sila-sila Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Antara sila-sila Pancasila itu saling berkaitan , saling berhubungan, bahkan saling mengkualifikasi. Sila yang satu senantiasa dikualifikasi oleh sila-sila lainnya. Secara demikian ini, maka Pancasila pada hakikatnya merupakan sistem, dalam pengertian bahwa bagian-bagian, sila-silanya saling berhubungan atau berkaitan secara erat sehingga membentuk suatu susunan yang menyeluruh. Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat difahami melalui pemikiran dasar yang terkandung dalam pancasila yaitu sila pertama, yaitu pemikiran tentang manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilanya telah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian Pancasila merupakan suatu sistem dalam pengertian kefilsafatan sebagaimana sistem filsafat lainnya seperti materialisme, idealisme, rasionalisme, sosialisme, dan sebagainya.
            Kenyataan Pancasila yang demikan itu disebut dengan kenyataan objektif, yaitu bahwa kenyataan itu ada pada Pancasila sendiri terlepas dari sesuatu yang lain, atau terlepas dari pengatahuan orang. Kenyataan objektif yang ada dan terlekat pada Pancasila, sehingga Pancasila sebagai suatu sistem filsafat bersifat khas dan berbeda dengan sistem-sistem filsafat lainnya mislanya liberalisme, materialisme, komunisme, dan aliran filsafat yang lainnya. Hal ini secara ilmiah disebut ciri khas secara objektif. Maksudnya bahwa ciri objektif yang dimiliki oleh Pancasila sebagai suatu sistem filsafat akan memberikan jati diri atau sifat yang khas dan khusus yang tidak terdapat pada sistem filsafat lainnya.
            Pancasila adalah filsafat bangsa yang sesungguhnya berimpit dengan jiwa bangsa (Kartohadiprodjo,1968).  Sebagai pandangan filsafat, Pancasila merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa, yang dalam usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem filsafat yang kredibel. Bahan materialnya adalah berbagai butir dan ajaran kebijaksanaan dalam budaya etnik maupun agama, mungkin pula diantaranya masih terserak di alam Nusantara yang luas.
C.  Kesatuan Sila-Sila Pancasila
            Susunan Pancasila adalah hierarkis dan mempunyai bentuk piramidal. Pengertian matematika piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarki sila-sila dai Pancasila dalam urut-urutan luas (kuantitas) dan juga dalam hal sifat-sifatnya (kualitas). Jika dilihat dari intinya , urutan-urutan lima sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luas dan isi sifatnya, merupakan pengkhususan dari sila-sila yang dimukanya. Jika uut-urutan lima sila dianggap mempunyai maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lain sehingga Pancasila merupakan suatu kesatuan keseluruhan yang bulat.
            Dalam susunan hierarkis dan piramidal ini, maka Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosia. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara, dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial demikian selanjutnya, sehingga tiap-tiap sila didalamnya mengandung sila-sila lainnya.  Prof. N.Drijarkara menegaskan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa  merupakan dasar dari segala sila. Eksistensi yang lain seantiasa relatif dan tergantung dan untuk mengerti Tuhan, manusia berpangkal pada pengertian alam dan dirinya sendiri.
            Secara Ontologis kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem yang bersifat hierarkis dan piramidal adalah sebagai berikut : Bahwa hakikat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai Causa Prima. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada termasuk manusia da karena diciptakan  Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (Sila 1). Adapun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia  (Sila 2). Maka negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (Sila 3). Sehingga terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Maka rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah sebagai totalitas  individu-individu dalam negara yang bersatu (sila 4). Keadilan pada hakikatnya merupakan tujuan suatu keadilan dalam hidup bersama atau denga lain perkataan keadilan sosial (sila 5) pada hakikatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara.
            Sila-sila Pancasila sebagai kesatuan dapt dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam rangka hubungan hierarkis piramidal tadi. Tiap-tiap sila seperti telah disebutkan diatas mengandung empat sila lainnya, dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk kelengkapan dari hubungan kesatuan keseluruhan dari sila-sila Pancasila dipersatukan dengan rumus hierarkis tersebut di atas.
1.      Sila pertama : Ketuahanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkeamnusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosila bagi seluruh rakyat indonesia.
2.      Sila kedua : kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosila bagi seluruh rakyat Indonesia
3.      Sila ketiga :   Persatuan Indonesia adalah persatuan yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
4.      Sila keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratn/perwakilan adalah kerakyatan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkeadilan sosila bagi seluruh rakyat Indonesia.
5.      Sila kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
       Sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan kesatuan yang bersifat formal logis saja, namun juga meliputi kesatuan dasar Ontologis, dasar epistemologis, serta dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila. Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem filsafat yang lainnya seperti materialisme, liberalisme, komunisme, dsb.
            Pancasila yang merupakan suatu sistem Filsafat juga memiliki dasar-dasar sebagaimana filsafat itu sendiri, yaitu memiliki dasar Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Yang artinya bahwa sils-sila pancasila itu dibangun berdasarkan ketiga hal tersebut.  Dasar Ontologis Pancasila itu sendiri adalah manusia, yang mana dalam hal ini manusialah yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratn/perwakilan serta yang berkeadilan sosial.
            Pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makan hidup  serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalahyang dihadapi dalam kehidupan. Pancasila dalam pengertian yang demikian telah menjadi suatu sistem cita-cita yang telah menyangkut praktis, karena dijadikan landasan bagi cara hidup manusia atau suatu kelompok dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karenanya bisa dikatakan bahwa sila-sila Pancasila juga dibangun berdasarkan dasar epistemologis.
            Sebagai suatu sistem Filsafat, Pancasila juga memiliki kesatuan dasar aksiologisnya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan satu kesatuan, yang kemudian nilai-nilai tersebut merupakan sebuah cita-cita, harapan, dambaan bangsa Indonesia yang akan diwujudkan dalam kehidupannya. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kesatuan yang utuh. Nilai-nilai tersebut saling berhubungan secara erat dan utuh.


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
            Pancasila yang merupakan hasil pikiran, analisis serta kajian-kajian yang dilakukan secara mendalam oleh para pendiri bangsa Indonesia adalah merupakan sebuah sistem Filsafat. Disebut demikian karena pengertian filsafat itu sendiri adalah analisis kritis terhadap konsep-konsep dasar yang dengannya orang berfikir tentang dunia dan kehidupan manusia (Alston). Dikatakan sebagai sebuah sistem karena sila-sila yang ada dalam Pancasila bukan saling berdiri sendiri, melainkan sila-sila tersebut saling memiliki keterkaitan dan hubungan yang saling mengkualifikasi antara yang satu dengan sila yang lainnya. Pancasila juga merupakan satu kesatuan yang logis, sistematis dan hierarkis yang mana antara sila yan satu dengan sila yang lain membentuk sebuah susunan piramidal hirarkis yang dipuncaki oleh sila pertama yaitu Berketuhanan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar